Selasa, 05 Juni 2012

Penerapan Moving Class dan Tata Kelas di SMAN 33 Jakarta


 Pendahuluan
1.      Inovasi
Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi saja, tetapi juga mencakup ideologi, kepercayaan, sikap hidup, informasi, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju kepada proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Schumpeter merupakan ilmuwan yang pertama kali mengemukakan arti inovasi.
Menurut Mardikanto (1988) pengertian inovasi dapat semakin diperluas yaitu sebagai sesuatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktek-praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/ diterapkan/ dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikaan mutu hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.
Rogers (1983) mengartikan inovasi sebagai ide-ide baru, praktek-praktek baru, atau obyek-obyek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh individu atau masyarakat sasaran penyuluhan. Rogers (1995), mengatakan bahwa inovasi merupakan ide, perilaku atau barang yang disampaikan lewat saluran komunikasi dan waktu tertentu dan dirasakan baru oleh seseorang dalam sebuah sistem sosial.
Teori ini membahas mengenai bagaimana sebuah inovasi baru dapat diadopsi oleh masyarakat (adopter) melalui berbagai saluran komunikasi yang dicanangkan oleh para agen perubahan.
2.      Pengelolaan kelas
Pengelolaan kelas mengandung pengertian, yaitu proses pengelolaan kelas untuk menciptakan suasana dan kondisi kelas yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif (Rachman, 1999 : 11). Pengelolaan kelas juga dapat diartikan sebagai segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan (Ahmad, 1995 : 1).
Jadi, Pengelolaan kelas adalah seperangkat kegiatan untuk mengembangkan tingkah laku siswa yang diinginkan, mengulang atau meniadakan tingkah laku yang tidak diinginkan, dengan hubungan-hubungan inter personal dan iklim sosio emosional yang positif serta mengembangkan dan mempermudah organisasi kelas yang efektif.
Sedangkan prinsip dasar pengelolaan kelas adalah pegangan atau acuan yang memiliki pokok dasar berfikir atau bertindak bagi seorang pendidik dalam usaha menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal serta mengembalikan kondisinya bila terjadi gangguan dalam proses pembelajaran.
Djamaroh (2006 : 173) menyebutkan masalah yang dihadapi guru, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman adalah pengelolaan kelas. Aspek yang sering di diskusikan oleh penulis professional dan pengajar adalah juga pengelolaan kelas. Mengingat tugas utama dan paling sulit bagi pengajar adalah pengelolaan kelas.
Pengelolaan kelas diperlukan karena dari hari ke hari bahkan dari waktu ke waktu tingkah laku dan perbuatan siswa selalu berubah. Hari ini siswa dapat belajar dengan baik dan tenang, tetapi besok belum tentu. Kemarin terjadi persaingan yang sehat dalam kelompok, sebaliknya di masa mendatang boleh jadi persaingan itu kurang sehat. Kelas selalu dinamis dalam bentuk prilaku, perbuatan, sikap, mental, dan emosional siswa.
Secara umum faktor yang mempengaruhi pengelolaan kelas dibagi menjadi dua golongan yaitu, faktor intern dan faktor ekstern siswa (Djamarah, 2006 : 184). Faktor intern siswa berhubungan dengan masalah emosi, pikiran, dan prilaku. Kepribadian siswa dengan ciri khasnya masing-masing menyebabkan siswa berbeda dari siswa lainnya secara individual. Perbedaan secara individual ini dilihat dari segi perbedaan biologis, intelektual, dan psikologis.
Faktor ektern siswa terkait dengan masalah suasana lingkungan belajar, penempatan siswa, pengelompokan siswa, jumlah siswa, dan sebagainya. Masalah jumlah siswa di kelas akan mewarnai dinamika kelas. Semakin banyak jumlah siswa di kelas, misalnya dua puluh orang ke atas akan cenderung lebih mudah terjadi konflik. Sebaliknya semakin sedikit jumlah siswa di kelas cenderung lebih kecil terjadi konflik.
Penataan ruang kelas
Pembelajaran yang efektif dapat bermula dari iklim kelas yang dapat menciptakan suasana belajar yang menggairahkan, untuk itu perlu diperhatikan pengaturan/ penataan ruang kelas dan isinya, selama proses pembelajaran. Lingkunagan kelas perlu ditata dengan baik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi yang aktif antara siswa dengan guru, dan antar siswa. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh guru dalam menata lingkungan fisik kelas menurut Loisell (Winataputra, 2003: 9.22) yaitu:
1. Visibility ( Keleluasaan Pandangan)
Visibility artinya penempatan dan penataan barang-barang di dalam kelas tidak mengganggu pandangan siswa, sehingga siswa secara leluasa dapat memandang guru, benda atau kegiatan yang sedang berlangsung. Begitu pula guru harus dapat memandang semua siswa kegiatan pembelajaran.
2. Accesibility (mudah dicapai)
Penataan ruang harus dapat memudahkan siswa untuk meraih atau mengambil barang-barang yang dibutuhkan selama proses pembelajaran. Selain itu jarak antar tempat duduk harus cukup untuk dilalui oleh siswa sehingga siswa dapat bergerak dengan mudah dan tidak mengganggu siswa lain yang sedang bekerja.
3. Fleksibilitas (Keluwesan)
Barang-barang di dalam kelas hendaknya mudah ditata dan dipindahkan yang disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran. Seperti penataan tempat duduk yang perlu dirubah jika proses pembelajaran menggunakan metode diskusi, dan kerja kelompok.
4. Kenyamanan
Kenyamanan disini berkenaan dengan temperatur ruangan, cahaya, suara, dan kepadatan kelas.
5. Keindahan
Prinsip keindahan ini berkenaan dengan usaha guru menata ruang kelas yang menyenangkan dan kondusif bagi kegiatan belajar. Ruangan kelas yang indah dan menyenangkan dapat berengaruh positif pada sikap dan tingkah laku siswa terhadap kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan.
Penyusunan dan pengaturan ruang belajar hendaknya memungkinkan anak duduk bekelompok dan memudahkan guru bergerak secara leluasa untuk membantu dan memantau tingkah laku siswa dalam belajar. Dalam pengaturan ruang belajar, hal-hal berikut perlu diperhatikan menurut Conny Semawan,dkk. (udhiezx.wordpress: 3) yaitu:
  • Ukuran bentuk kelas
  • Bentuk serta ukuran bangku dan meja
  • Jumlah siswa dalam kelas
  • Jumlah siswa dalam setiap kelompok
  • Jumlah kelompok dalam kelas
  • Komposisi siswa dalam kelompok (seperti siswa yang pandai dan kurang pandai, pria dan wanita).

3.      Analisis
Setelah melakukan observasi di SMAN 33 Jakarta, kami berasumsi pengelolaan ruang kelas di SMAN 33 Jakarta masih kurang optimal. Siswa butuh suasana baru disetiap mata pelajaran, penataan ruang kelas yang monoton juga mempengaruhi motivasi belajar siswa. Setelah mewawancarai beberapa siswa, mereka berpendapat bahwa terkadang mereka merasa bosan berada dikelas yang sama disepanjang hari belajar ditambah lagi apabila guru yang mengajar tidak mengasikkan dalam menyampaikan materi. Maka dari itu, kami akan membuat suatu inovasi untuk mengatasi masalah tersebut. Inovasi yang kami tawarkan ialah Moving Class with Fun.

  1. Deskripsi produk
Moving Class with Fun adalah suatu inovasi dalam bidang pengelolaan kelas, dimana kami membuat suatu rancangan ruang kelas yang menarik dan menyenangkan dengan menanamkan nilai-nilai budaya indonesia dalam penataan kelas tersebut. Setiap mata pelajaran memiliki ruang tersendiri yang di tata sesuai dengan deskripsi mata pelajaran, susunan bangku yang dipakai ialah model susunan U dan O yang dapat secara fleksibel dirubah sesuai kebutuhan materi yang akan disampaikan. Semaksimal mungkin kelas dapat digunakan tidak hanya untuk belajar yang berstrategi ceramah ataupun diskusi saja, tetapi juga dapat digunakan untuk bermain peran, demonstrasi, praktek, dll. Jadi kelas dapat serba guna tanpa harus keluar kelas, karena semuanya sudah tersedia. Untuk kamar mandipun tersedia, jadi siswa tidak perlu izin keluar kelas untuk kekamar mandi. Segala fasilitas seperti LCD, layar proyektor, komputer, AC, pojok perpustakaan, absen finger print, kamera CCTV, dll sudah tersedia dikelas. Hasil karya siswa pun dipajang dikelas sebagai bentuk penghargaan atas tugas yang telah dikerjakan oleh siswa. Untuk keterlambatan ditoleransi sekitar 10 menit dan diabsen dengan finger print, jika sudah lewat 10 menit finger print tidak akan berfungsi sehingga siswa yang telat dinyatakan tidak hadir.

Tujuan Moving Class
1. Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran;
2. Meningkatkan Efektivitas dan Efisiensi Waktu Pembelajaran
3. Meningkatkan Disiplin Siswa dan Guru
4. Meningkatkan keterampilan guru dalam memvariasikan metode dan media pembelajaran yang diaplikasikan dalam  kehidupan siswa sehari-hari.
5.  Meningkatkan keberanian siswa untuk bertanya, menjawab, mengemukakan pendapat dan bersikap terbuka pada setiap mata pelajaran.
6.  Meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa.

Strategi Pengelolaan Moving Class
1. Pengelolaan Perpindahan Peserta didik
  1. Peserta didik berpindah ruang belajar sesuai mata pelajaran yang diikuti berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan
  2. Waktu perpindahan antar kelas adalah 5 menit dengan toleransi keterlambatan 10 menit.
  3. Peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan tempat duduknya sendiri
  4. Peserta didik perlu ditegaskan peraturan tentang penggunaan ruang dan tata tertib dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran serta konsekuen-sinya
  5. Tas diletakkan pada loker yang sudah tersedia di sisi belakang kelas
  6. Finger print tidak akan berfungsi bila kelas sudah berjalan lebih dari 10 menit
  7. Keterlambatan berturut-turut lebih dari 3 (tiga) kali diadakan tindakan pembinaan yang dilakukan Penanggung Jawab akademik bersama dengan Guru Pembimbing.

2. Pengelolaan ruang belajar-Mengajar
  1. Guru diperkenankan untuk mengatur ruang belajar sesuai karakteristik mata pelajarannya
  2. Ruang belajar setidak-tidaknya memiliki sarana dan media pembelajaran yang sesuai, Jadwal Mengajar Guru, Tata Tertib Peserta didik dan Daftar Inventaris yang ditempel di dinding.
  3. Ruang belajar dapat dilengkapi dengan pojok perpustakaan dan sarana lainnya yang mendukung proses Pembelajaran
  4. Tiap Mata pelajaran telah disediakan prasarana multimedia. Penggunaan prasarana diatur oleh Penanggung Jawab kelas Mata Pelajaran
  5. Guru bertanggungjawab terhadap ruang belajar yang ditempatinya. Dengan demikian setiap guru memiliki kunci untuk ruang masing-masing.

3. Pengelolaan Administrasi Guru dan Peserta didik
  1. Absensi dilakukan dengan finger print berlaku utuk siswa dan guru
  2. Guru membuat catatan-catan tentang kejadian-kejadian di kelas brerdasarkan format yang telah disediakan
  3. Guru mengisi laporan kemajuan belajar peserta didik, absensi peserta didik, keterlambatan peserta didik dan membuat rekapan sesuai format yang disediakan
  4. Guru membuat laporan terhadap hal-hal khusus yang memerlukan penanganan kepada Penanggung Jawab Akademik
  5. Guru membuat Jadwal topik/materi yang diajarkan kepada peserta didik yang ditempel di ruang belajar

Faktor-Faktor Pertimbangan Adopter dalam Mengadopsi Moving Class with Fun
Faktor-faktor yang menjadikan pertimbangan pihak adopter dalam membuat keputusan untuk menerima atau menolak produk Moving Class with Fun jika dikaitkan dalam pemikiran Rogers (1983) dalam Diffusion of Innovasion dipengaruhi oleh 5 atribut inovasi, yaitu:

  1. Relative Advantage
Para adopter akan menilai apakah inovasi internet relatif menguntungkan atau lebih unggul dibanding inovasi lainnya yang memiliki keunggulan sejenis. Untuk adopter yang menerima secara cepat inovasi moving class with fun akan melihat moving class with fun sebagai inovasi dalam sistem belajar disekolah, dimana konsep moving class with fun mengacu pada pembelajaran kelas yang berpusat pada siswa untuk memberikan lingkungan yang dinamis sesuai dengan bidang yang dipelajarinya. Keunggulan sistem ini adalah para siswa lebih punya waktu untuk bergerak, sehingga selalu segar untuk menerima pelajaran. Sementara para pendamping, dapat menyiapkan materi terlebih dahulu. siswa akan tumbuh dengan baik jika mereka dilibatkan secara alamiah dalam proses belajar yang didukung lingkungan yang dirancang secara cermat dengan menggunakan konsep yang jelas. Dengan moving class with fun kemampuan siswa dalam bereksplorasi, mencipta, berpikir kreatif dapat berkembang dengan baik. Guru dapat mengkondisikan ruang/laboratoriumnya sesuai dengan kebutuhan setiap pertemuan tanpa harus terganggu oleh mata pelajaran lain.

  1. Compatibility
Adopter juga akan mempertimbangkan pemanfaatan moving class with fun berdasarkan konsistensinya pada nilai-nilai, pengalaman dan kebutuhannya. Bagi mereka yang mengerti akan pengelolaan kelas pasti tahu seperti apa standar kelas yang nyaman bagi siswa yang dapat memotivasi belajar siswa. Kelas yang dikelola akan berbasis pedidikan berkarakter yang sedang digembar-gemborkan olah pemerintah dewasa ini. Seperti di SMAN 33 yang siswanya merasa bosan belajar diruang kelas yang tetap sepanjang hari. Siswa disini sebagai adopter yang akan merasakan bedanya moving class with fun dengan kelas klasik biasa berdasarkan FOE yang mereka miliki.

  1. Complexity
Adopter juga akan menilai tingkat kesulitan atau kompleksitas yang akan dihadapinya jika mereka menerapkan moving class with fun. Artinya bagi siswa yang tidak dibiasakan moving class akan sedikit kesulitan dalam berpindah kelas dari kelas yang satu ke kelas yang lainnya dibandingkan siswa yang sudah terbiasa melakukan moving class. Tingkat kesulitan tersebut berhubungan dengan FOE, keterbiasaan, dan budaya sekolah yang mereka anut. Adopter akan langsung mempertimbangkan apakah moving class efisien baginya atau tidak sama sekali.

  1. Trialability
Mengurangi ketidakpastian mempunyai kemungkinan untuk diuji coba terlebih dahulu oleh para adopter untuk mengurangi ketidakpastian mereka terhadap moving class with fun. Sebelum diterapkan, moving class diuji cobakan terlebih dahulu, agar guru dan siswa dapat memutuskan apakah moving class sesuai dengan keinginan belajar siswa atau tidak. Kemampuan ini dapat membantu adaptor menentukan sikap menerima atau menolak inovasi moving class with fun.

  1. Observability
Adopter akan memberikan penilaian apakah moving class with fun mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan menjadikan siswa lebih kreatif lagi atau tidak. Apakah inovasi ini cocok diterapkan disekolah atau tidak. Jika iya, maka hal ini akan terus dikembangkan hingga timbul inovasi baru dari moving class with fun ini.

Penggolongan Adopter
Rogers menyebutkan 5 kategori adopter yaitu inovator, early adopter, early majority, late majority dan laggard. Kelima adopter ditentukan berdasarkan tingkat kecepatan dimana sekolah dapat mengadopsi moving class with fun lebih awal dibandingkan sekolah lainnya. Menurut Rogers, hal ini dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
  1. Berapa banyak masyarakat sekolah yang mendapatkan informasi mengenai moving class secara umum dan moving class secara khusus (moving class  with fun).
  2. Berapa cepat perubahan sikapnya dalam mengambil keputusan untuk menerima atau menolak moving class with fun ini.

Penyebarluasan Penggunaan Moving Class with Fun
Untuk menerapkan pengunaan moving class di sekolah, maka penting untuk memperhatikan saluran komunikasi apa yang akan digunakan dalam mengkomunikasikannya dengan guru ataupun peserta didik. Saluran komunikasi berarti: melalui channel apa pesan-pesan dapat disampaikan dari seseorang ke orang lainnya. Saluran komunikasi yang disarankan dapat digunakan secara efektif adalah saluran komunikasi interpersonal. Saluran komunikasi interpersonal dalam proses adopsi inovasi inidinilai lebih efektif dalam mnyampaikan apa yang menjadi kebutuhan-kebutuhan, alat serta cara yang akan dipakai dalam proses penerapan moving class ini.

Minggu, 22 April 2012

RINDU RUMAH

hey aku ingat!
pintu tua yg berbunyi ngek ngok
bila ku buka seakan pintu itu menerkam ku 
aku pun ingat dengan si jendela usang 
ia selalu menemani ku menikmati melodi hujan
sang lantai semen pun tak mau kalah 
ia selalu mengocorkan air saat bulan purnama
si cermin pecah tertata rapi dengan berbagai pelekat disisi2 nya 
genteng yg kokoh pdhl rapuh meneteskan air mata tiap hujan dtang 
dan aku selalu menampung nya di ember untuk mandi besok
tak ayal si timbahan air ikut bertingkah 
seakan tak ingin di lupakan oleh pemiliknya
yaa dan aku tak akan lupa dng perbuatan si timbahan air 
lengan ku terbentuk karena nyaaaa. .
aku rindu mereka semua. . .

Juni 2011

Inovasi di SMPN RSBI 115 Jakarta

Rasional Kurikulum RSBI SMP Negeri 115 Jakarta

Kurikulum dikembangkan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional meliputi beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, jujur, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab. Oleh sebab itu kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan, memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah,dengan memprioritaskan nilai kebersihan dan sehat pada tahun pelajaran 2011-2012

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua standar dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu :
  1. Standar isi (Permen Diknas No. 22 Thn. 2006) adalah ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
  2. Standar proses (Permen Diknas No. 41 Thn. 2007) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan.
  3. Standar kompetensi lulusan (Permen Diknas No. 23 Thn. 2006) adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
  4. Standar pendidik dan tenaga kependidikan (Permen Diknas No. 12, 13 dan 16  Thn. 2007) adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.
  5. Standar sarana dan prasarana (Permen Diknas No. 24 Thn. 2007) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan kriteria minimal tentang ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan, laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan berekreasi, serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi dan komunikasi.
  6. Standar pengelolaan (Permen Diknas No. 19 Thn. 2007) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan  pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan.
  7. Standar penilaian pendidikan (Permen Diknas No. 20 Thn. 2007) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan mekanisme, prosedur, dan instrumen penilaian hasil belajar peserta didik.
  8. Standar pembiayaan pendidikan (Permen Diknas No. 69 Thn. 2009) adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pembiayaan pendidikan selama satu tahun pelajaran.

Kurikulum Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) SMP Negeri 115 Jakarta adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan ajar dan metode yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan proses belajar mengajar (PBM) untuk mencapai tujuan pendidikan.

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) merupakan sekolah yang diharapkan sudah memenuhi seluruh standar nasional pendidikan yang diperkaya dan dikembangkan dengan mengacu pada standar pendidikan lembaga internasional dan/atau negara maju sehingga memiliki daya saing di forum internasional.

Pengembangan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing bangsa Indonesia di forum internasional. Pengembangan Kurikulum RSBI-SMP Negeri 115 Jakarta terdiri dari  standar nasional pendidikan yang diperkaya, diperkuat, diperluas, dan diperdalam dengan mengadopsi kurikulum dari : Cambridge, Australia, Singapura, Puskur, dan Direktorat PSMP dan negara maju lainnya berupa isi, SKL, metode, proses dan penilaiannya.

Pada hakikatnya, Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional merupakan sekolah dengan standar yang lebih tinggi atau melampaui Standar Nasional Pendidikan yang ditunjukkan dengan penyelenggaraan pendidikan beserta segala aspek pendukungnya dengan lebih menekankan pada aspek intensitas dan kualitas layanan pendidikan yang ditata secara efektif, profesional, dan khas guna mencapai keunggulan di forum internasional.

Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional memiliki beberapa karakteristik sebagai berikut:
  1. Menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya secara aktif dalam pembelajaran;  
  2. Menggunakan Information and Communication Technology (ICT) dalam pembelajaran;
  3. Menyiapkan peserta didik untuk melanjutkan sekolahnya ke sekolah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional atau ke Sekolah Bertaraf Internasional;
  4. Menggunakan kurikulum sekolah yang mengacu pada Standar isi dan Kompetensi lulusan yang diperkaya dengan kerangka kurikulum negara maju, bertaraf internasional, atau berbagai sumber lainnya;
  5. Melakukan inovasi-inovasi di bidang pengelolaan sekolah dan proses pembelajaran untuk menciptakan lulusan yang dapat bersaing secara global;
  6. Menerapkan prinsip-prinsip kepemimpinan sekolah yang visioner-transformatif yaitu kepemimpinan yang memiliki visi perubahan ke masa depan;
  7. Memiliki sumberdaya manusia yang profesional dan tangguh, baik guru maupun kepala sekolah dan tenaga pendukungnya;
  8. Didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap, edukatif, relevan, mutakhir, dan canggih yang bertaraf internasional;
  9. Mengakomodasi isu-isu internasional mengenai budaya sekolah, gender, lingkungan, multikultur, dan hak azasi manusia.
  10. Memberikan pengalaman kepada peserta didik untuk dapat bermasyarakat secara internasional melalui berbagai macam kegiatan antara lain pertukaran pelajar dan home stay.
  11. Mengembangkan pendidikan karakter bersih dan sehat
Hal ini termasuk inovasi dalam dunia pendidikan, khususnya kurikulum. Yang kita ketahui sebelumya bahwa kurikulum yang sedang kita gunakan ialah KTSP. Tetapi dengan adanya sekolah yang bertarah internasional (RSBI) maka dibuatlah kurikulum yang disebut Kurikulum RSBI. Kurikulum ini hampir mendekati sempurna, seperti kurikulum di sekola- sekolah swasta yang bertaraf internasional. Kurikulum ini kaya akan penggunaan teknologi (ICT) sehingga siswa dibiasakan bergelut dengan teknologi supaya tidak gagap teknologi. Siswa pun diajak berpikir lebih luas dan terbuka dengan adanya petukaran pelajar, terjun langsung kemasyarakat, isu-isu internasional, dll. Kurikulum ini merupakan pengembangan berbagai jenis kurikulum yang sebelumnya dan berkiblat pada kurikulum di luar negeri seperti australi, amerika, dll.
Menurut saya hal itulah yang menjadi kekurangan dari kurikulum ini, berkiblat  pada kurikulum di luar negeri yang pasti memiliki budaya yang berbeda dengan kita. Seharusnya kita membuat kurikulum yang sesuai dengan jati diri bangsa kita. Bagaimana pendidikan karakter dapat berjalan bila kita menggunakan kurikulum yang berkiblat pada luar negeri. Walau sekolah ini dapat bersaing di dunia internasional, tetap saja bukan sebagai jati diri bangsa kita.


Minggu, 11 Maret 2012

Senangnya berdiskusi DIP melalui Facebook

A.   PENDAHULUAN

Dunia pendidikan selalu mengikuti perkembangan zaman, hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi inovasi dalam pendidikan. Inovasi-inovasi selalu terjadi demi perbaikan pendidikan. Jika dahulu kita hanya terjebak dalam kelas konvensional, sekarang kita dapat melakukan proses pembelajaran dimana saja termasuk didunia maya. Salah satu contoh kita berproses di dunia maya adalah dengan digunakannya jejaring sosial sebagai media diskusi belajar. Kita pasti tahu salah satu jejaring sosial yang sangat terkenal dan paling banyak peminatnya adalah facebook. Yaaa, facebook yang diciptakan oleh Mark Zuckerberg ini, mampu menyihir ribuan orang untuk saling berkomunikasi dan sharing berbagai hal.
Nah, tidak disangka-sangka dosen kita (pak Sitepu dan bu Retno) melakukan suatu pembaharuan dalam strategi pembelajaran dimata kuliah difusi inovasi pendidikan. Para dosen yang gaul ini menggunakan facebook sebagai forum diskusi antar mahasiswa dan dosen. Tercetuslah FORUM DIP REG 2010, sebagai forum diskusi mengenai segala yang berhubungan dengan DIP. Dosen pengampu biasanya memposting pertanyaan dan terjadilah diskusi yang cukup menguras tenaga karena banyaknya perbedaan pendapat tetapi tetap menyenangkan.
Disini saya akan menjabarkan hasil survey saya terhadap mahasiswa teknologi pendidikan UNJ yang mengambil mata kuliah DIP pada semester 096 ini. Dengan studi kasus yang diberikan oleh pak Sitepu, yaitu:
Salah satu topik diskusi dalam forum DIP ini adalah apakah forum grup FB diskusi DIP merupakan inovasi? Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah mengapa alasannya (berdasarkan teori rogers dan reigeluth)? Setelah itu muncul jawaban-jawaban dari mahasiswa yang terbatas pada “YES” atau “NO”, atau “YES & NO” beserta alasan yang beragam. Diskusi pada FB tersebut belum berakhir pada pertanyaan tersebut karena selanjutanya para mahasiswa diminta kembali untuk membuat survey sederhana terkait dengan topic diskusi sebelumnya mengenai grup FB DIP termasuk ke dalam inovasi atau bukan. Survey tersebut memiliki tiga pertanyaan utama dan dituntut dalam memvisualisasikan hasilnya ke dalam bentuk tabel, digram batang, dan diagram bulat. Ke tiga pertanyaan utama tersebut adalah sebagai berikut:
(1) hitung dan tabulasi berapa jumlah yang "ngoceh" (menjawab) serta berapa yang "bengong" (tdk menjawab)
(2) hitung dan tabulasi dari yang "nerocos" itu, berapa yang memilih "YES", "NO", dan "YES & NO".
(3) kategorisasi/klasifikasi serta hitung frekwensinya. Misalnya yg memilih "YES", apa saja alasan, dan hitung yang alasan yang sama.
Survey ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat partisipasi para responden (mahasiswa)  terhadap mata kuliah DIP ini dan melatih kemampuan menganalisis mahasiswa terhadap berbagai permasalahan yang sajikan.

B. HASIL SURVEI
GAMBAR 1
Data tersebut menjabarkan bahwa mahasiswa yang berpartisipasi dalam menjawab soal dari forum DIP ini adalah 29 mahasiswa dan yang tidak berpartisipasi adalah 2 mahasiswa dengan total responden 31 mahasiswa.

GAMBAR 2
Data diatas menjelaskan perbedaan pendapat mahasiswa mengenai apakah forum DIP termasuk inovasi atau tidak. Yang menjawab “yes” sekitar 12 mahasiswa, yang menjawab “no” 1 mahasiswa, dan yang ,menjawab “yes&no” adalah 16 mahasiswa.

 
GAMBAR 3
Karena banyaknya perbedaan pendapat maka jawaban dari mahasiswa diklasifikasikan  agar mudah dalam mengambil kesimpulan. Terdapat 5 klasifikasi jawaban yaitu:
1.     Yes A : Forum DIP merupakan sebuah inovasi yang baru
2.    Yes B : Forum DIP merupakan inovasi yang berkelanjutan
3.    Yes C : Forum DIP merupakan inovasi yang memiliki nilai tambah
4.    No A  : Forum DIP bukan merupakan hal yang baru
5.    No B  : Forum DIP bukan merupakan inovasi yang berkelanjutan

C. PEMBAHASAN
Berikut jawaban saya terkait pertanyaan forum mengenai DIP sebagai suatu inovasi sebelum saya melakukan survey:
“bila kita lihat dari pengertian inovasi menurut Rogers bahwa inovasi merupakan ide, praktik atau objek yang dianggap baru oleh suatu individu atau kelompok. Nah, berarti kalo saya bilang ini adalah inovasi dalam mata kuliah ya sah-sah saja (kembali lagi pada definisi Rogers mengenai Inovasi). Karena selama saya berkuliah, saya belum pernah melakukan diskusi mata kuliah melalui grup facebook seperti grup DIP ini. Barulah pada mata kuliah DIP saya merasakan diskusi mata kuliah yang cukup menarik, apa lagi melalui akun facebook akan memudahkan kita sebagai mahasiswa untuk melakukan diskusi tersebut melalui handphone maupun PC, dimana saja dan kapan saja (seperti prinsip TP).
Akan tetapi mengacu pada definisi inovasi menurut Reigeluth bahwa inovasi adalah suatu proses perubahan secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam mencapai suatu tujuan tertentu dimana hal ini dilakukan untuk memperbaiki sistem yang telah ada sebelumnya dengan melibatkan berbagai aspek agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai. Ada dua kata kunci dalam pernyataan ini yaitu “menyeluruh” dan “ berkelanjutan”, dikatakan menyeluruh apa bila semua mahasiswa TP UNJ (pada lingkup kecil) dan mahasiswa UNJ (pada lingkup luasnya) dapat merasakan inovasi dalam perkuliahan ini. Pada kenyataannya?? Hanya mahasiswa TP UNJ yang mengambil mata kuliah DIP saja saja yang dapat merasakan inovasi ini (berarti hanya beberapa mahasiswa saja). Lalu inovasi itu harus “berkelanjutan”, mungkin manfaat dari grup DIP ini hanya dirasakan saat kita mengambil mata kuliah DIP saja. Jika kita sudah selesai dengan mata kuliah DIP, maka manfaat dari grup ini tidak dapat dirasakan lagi. Kecuali untuk setiap mata kuliah di adakan grup diskusi dengan menggunakan akun facebook, maka itu dapat dikatakan berkelanjutan. Tetapi untuk saat ini masih belum dapat dikatakan sebuah inovasi (mengacu pada definisi Reigeluth).”
Ternyata hasil survey saya dengan jawaban saya sebelum melakukan survey hasilnya hampir sama. alasan para responden kebanyakan mengatakan bahwa forum DIP dapat dikatakan sebagai inovasi (16 responden menjawab), tetapi pada prateknya forum DIP manfaat dari forum ini tidak berkelanjutan.

D. KESIMPULAN
Dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa forum DIP dapat dikatakan sebagai sebuah inovasi dan juga bukan inovasi. Dikarenakan pengalaman tiap mahasiswa yang berbeda dan pendapat para ahli yang merumuskan definisi inovasi yang berbeda pula.
Untuk kedepannya semoga forum DIP memiliki manfaat yang berkelanjutan tidaknya hanya untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah DIP saja tetapi untuk seterusnya dapat dirasakan manfaat dari forum ini.

E. DAFTAR PUSTAKA
http://yusufrisanto.blogspot.com/2012/01/memahami-inovasi.htm