Haiiii..sudah berapa minggu yaaa di USBI? sudah bermingu-minggu pastinya...
Banyak hal yang saya dapati disini dan alhamdulillah semua bermanfaat bagi saya. :)
Dari membuat MOU, handbook (yang pembuatannya membutuhkan waktu sebulan), bikin desain cover handbook (yang harus berkali-kali direvisi, bolak balik nyari bu Citra, dan akhirnya sesuai dengan yang diharapkan), nelpon2 sekolah (ceritanya jadi call center-nya FOE, hehehehe). Dan semua itu saya lakukan dengan senang hati, yaaaa saya senang belajar banyak hal. :)
Selain tugas-tugas yang saya dapati, saya juga mulai mengenal karyawan dan dosen disini. Malahan ada yang menasehati saya untuk membuat judul skripsi dari sekarang (andaikan dosen di jurusan saya ada yang sepeduli itu). karyawan dan dosen disini gahol2 ternyata, asik dan seakan tidak ada jarak diantara kita. and now, USBI kedatangan internship dari negara matahari a.k.a Jepang!!! Betapa bahagianya saya bisa bertemu dengan orang jepang bahkan berteman dengan mereka. Nama mereka adalah Kenji dan Shouhei, hmmmmm...dan mereka cute banget yaaa, tapi memiliki kepribadian yang jauh berbeda. kenji pecicilan sedangkan Shouhei sangat pendiam.
Oia, sekarang atasan saya bukan lagi bu Susi (oh my, saya rindu sekali dengan ibu Susi, lekas sembuh ya bu). dan digantikan denga ibu Yanik yang gak kalah gahoool...heheheh.
Yaaaa...intinya saya semakin bersemangat disini..
Semoga selalu begitu,
Citra Pertiwi Ilham
TP'ers 2010
“Aku datang - entah dari mana, aku ini - entah siapa, aku pergi - entah kemana, aku akan mati - entah kapan, aku heran bahwa aku gembira”. (Martinus dari Biberach, tokoh abad pertengahan).
Minggu, 06 Oktober 2013
Minggu, 08 September 2013
Seminggu bersama keluarga USBI :)
Mungkin salah satu hal yang tidak saya sangka dalam hidup ini adalah ber-PPL ria di USBI. Mengapa demikian? Sebab saya tidak pernah menyangka akan diterima untuk PPL disini. Yaa.. menurut saya, universitas ini "sugoii" banget.. jika saya bandingkan ditempat saya menuntut ilmu selama ini, yaaa..cukup jauh juga tertanya (padahal emang jauh banget)..hahahaha
Setiap weekday, saya masuk kerja jam 8 pagi hingga 5 sore. Dan adalah perjuangan untuk dapat sampai kesini. Harus bangun jam 5 pagi, naik busway yang duuuhh...super banget deh macetnya (macet orang maksudnya). Tetapi, saya tetap semangat dalam menjalani nya. Semangat karena saya selalu menantikan, "apalagi yang akan saya lakukan hari ini?".
Hari pertama, saya membayangkan seperti hari-hari pertama yang saya ketahui, yaitu hanya perkenalan, pembagian jobdec, keliling-keliling and then..the end, hanya itu. Tapi ternyata tidak, hari pertama saya sudah mendapat perkerjaan, saya mendapat pekerjaan untuk mempelajari MOU School Experience Program (SEP) dan calling sekolah-sekolah yang merupakan mitra USBI dan kalian tahu berapa sekolah yang harus saya hubungi? 30-an sekolah, itu super sekali pemirsahhhhhhh... :)
Hari berikutnya, saya masih berkutat dengan MOU dan calling sekolah. akan tetapi ada pekerjaan tambahan, yaitu memasukkan data base sekolah dan calling sekolah lagi untuk promosi program USBBI yaitu Education Training Program (ETP). Yaaa...cukup menyenangkan, karena saya menjadi tahu isi MOU untuk kerja sama itu seperti apa dan belajar menjadi "call center" yang baik..hahaha
Hari berikutnya, saya mendapat project dari bu Susi untuk menyusun Handbook SEP. Jika mendengar kalimat menyusun Handbook, saya jadi ingat dengan mata kuliah bapak Sitepu yang PBAC. walaupun tujuan Handbooknya berbeda.Tidak hanya menyusun Handbook, tetapi saya juga mendesain covernya (ilmu Photoshop langsung bergejolak..hehehe). walaupun gak handal banget dalam mendesain. Tapi namanya juga belajar dan berusaha? tidak ada kata menyerah dalam belajar. :)
Yaaa, saya senang ber-PPL ria disini. walau hanya seminggu, tapi rasanya sudah lama sekali disini. Banyak ilmu, pengalaman, wawasan, orang-orang hebat, dll. Dan sepertinya saya tidak menyesal telah memilih tempat ini. Tapi belum tahu untuk kedepannya seperti apa. Semoga selalu lancar, Amien.
Regards
Citra Pertiwi Ilham
Senin, 08 April 2013
TUGAS KSHP: META ANALISIS
META ANALISIS
A. Pengertian Meta Analisis
Menurut para ahli:
·
Glass (1981), Meta analisis
merupakan analisis kuantitatif dan menggunakan sejumlah data yang cukup banyak
serta menerapkan metode statistik dengan mempraktekkannya dalam
mengorganisasikan sejumlah informasi yang berasal dari sampel besar yang
fungsinya untuk melengkapi maksud-maksud lainnya.
·
Borg (1983), Meta analisis
merupakan teknik pengembangan paling baru untuk menolong peneliti menemukan
kekonsistenan atau ketidakkonsistenan dalam pengkajian hasil silang dari hasil
penelitian.
·
Soekamto (1988) mengatakan
bahwa sifat meta analisis antara lain kuantitatif, dan memakai analisis
statistik untuk memperoleh seri informasi yang berasal dari sejumlah data dari
penelitian-penelitian sebelumnya.
·
Sutjipto (1995), Meta-analisis
adalah salah satu upaya untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara
kuantitatif.
·
Sugiyanto (2004), Meta-analisis
merupakan studi dengan cara menganalisis data yang berasal dari studi primer.
Hasil analisis studi primer dipakai sebagai dasar untuk menerima atau mendukung
hipotesis, menolak/menggugurkan hipotesis yang diajukan oleh beberapa
peneliti.
Berdasarkan pengertian-pengertian
tersebut, dapat dikatakan bahwa meta analisis merupakan suatu bentuk penelitian
kuantitatif yang menggunakan angka-angka dan metode statistik dari
beberapa hasil penelitian untuk mengorganisasikan dan menggali informasi
sebanyak mungkin dari data yang diperoleh, sehingga mendekati kekomprehensifan.
Salah satu syarat yang diperlukan dalam melakukan meta analisis adalah
pengkajian terhadap hasil-hasil penelitian yang sejenis.
Meta
analisis merupakan analisis integratif sekunder dengan menerapkan prosedur
statistik terhadap hasil-hasil pengujian hipotesis penelitian. Menurut
Glass (1981), analisis sekunder itu merupakan analisis ulang (reanalysis)
terhadap data untuk tujuan menjawab pertanyaan penelitian dengan teknik-teknik
statistik yang lebih baik atau menjawab pertanyaan-pertanyaan baru dengan data
lama yang dimiliki.
Meta-analisis
sebagai suatu teknik ditujukan untuk menganalisis kembali hasil-hasil
penelitian yang diolah secara statistik berdasarkan pengumpulan data primer.
Hal ini dilakukan untuk mengkaji keajegan atau ketidakjegan hasil penelitian
yang disebabkan semakin banyaknya replikasi atau verifikasi penelitian,yang
sering kali justru memperbesar terjadinya variasi hasil penelitian.
Jika saya simpulkan, meta analisis
itu merupakan kegiatan penelitian kuantitatif yang integrative literature dan menggabungkan
banyak hasil studi orisinal, sistematis,
terencana, observasi retrospektif, dengan analisis statistika yang formal. Meta
analisis tidak berbicara mengenai hasil kesimpulan suatu penelitian, melainkan
data dari suatu penelitian yang sejenis sehingga dapat digeneralisasikan hasil
dari data-data yang telah dianalisis tersebut.
B. Tujuan Meta Analisis
Meta analisis bertujuan sebagai berikut:
·
Untuk memperoleh estimasi
effect size, yaitu kekuatan hubungan ataupun besarnya perbedaan antar variabel
·
Melakukan inferensi dari data
dalam sampel ke populasi (estimasi atau uji hipotesis)
·
Melakukan kontrol terhadap
variabel yang potensial bersifat sebagai perancu (confounder) agar tidak
mengganggu kemaknaan statistik dari hubungan atau perbedaan
C. Jenis-Jenis Meta Analisis
Meta-analysis
mulai berkembang dikenalkan oleh Glass tahun 1976.
1. Analysis of Moderator Effects
Berikut
ini adalah Metode umum dalam Detecting/Assessing Moderator Effects
·
Graphing
– OLS regression
·
Q
Stastistics (chi-square test) – WLS regression
·
Variance
analysis – Partition test
·
Outlier
test
2. Mediator Assessment Methods
Merupakan
teknik yang penting dalam metode meta-analysis yang berfungsi untuk
meng-address hubungan struktural, menganalisa apakah korelasi matriks dari
populasi umum mendasari sebuah himpunan dari hasil empiris yang didapatkan. Ada
dua alternatif pendekatan untuk mempelajari mediator effect, yaitu:
·
Mengkombinasi
dan menganalisa korelasi pengembangan meta-analysis
·
Studi
koefisien secara langsung dari kepentingan sebagai effect size.
3. Meta Analisis Kumulatif
Salah
satu bentuk meta-analisis yang relatif baru adalah apa yang disebut
meta-analisis kumulatif. Pada teknik ini hasil meta-analisis tidak dinyatakan
dalam simpulan akhir, namun dibiarkan `terbuka', menunggu evidence lain dari
penelitian serupa yang memenuhi kriteria. Data baru tersebut dimasukkan ke
dalam metaanalisis, dan dihitung rasio odds-nya, demikian seterusnya setiap
kali ada publikasi terbaru dan memenuhi kriteria pemilihan, data yang tersedia
dimasukkan ke dalam meta-analisis. Teknik ini biasanya dipergunakan untuk studi
meta-analisis terhadap suatu topik yang tidak banyak dilaporkan dalam
literatur.
D. Metode yang digunakan dalam Meta Analisis
Penelitian meta analisis
ini merupakan penelitian yang menggunakan data sekunder berupa data-data dari
hasil penelitian sebelumnya Dengan demikian penelitian ini dapat
disebut sebagai penelitian yang bersifat ex post facto yang berbentuk survey
dan analisis kepustakaan terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan.
Ada beberapa cara yang
dapat dilakukan untuk melaksanakan suatu meta analisis:
1) Glass (1981) = fokus pada
deteksi dari moderator variabel.
2) Hedges dan Olkin (1985) = memakai teknik weighted least
squares
3) Rosenthal dan Rubin
(1991) = sama seperti Hedges-Olkin,
bedanya hanya pada test signifikansi
untuk mengkombinasikan effect size
4) Hunter dan Schmidt
(1990) = bedanya dengan yang lain
adalah metode ini berusaha mengkoreksi
error potensial sebelum meta-analysis mengintegrasikan
effect study antar studi.
Tehnik Hunter dan Schmidt lebih sering digunakan karena teknik
ini dianggap oleh para peneliti sebagai teknik yang paling lengkap,
karena selain dapat dipergunakan untuk mengkaji effect size, teknik Hunter
Schimidt dapat juga dipergunakan untuk mengkoreksi kesalahan sebagai akibat
error of measurement, maupun man made error (artifact) yang lain.
Dalam upaya melakukan sintesa dari beberapa penelitian,
terlebih dahulu dilakukan koreksi terhadap artefak atau ketidaksempurnaan
penelitian (Sugiyanto,2004). Hunter & Schmidt (1990) menyebutkan sedikitnya
ada 11 artefak yaitu:
1. Kesalahan
pengambilan sampel
2. Kesalahan pengukuran
pada variabel dependen
3. Kesalahan
pengukuran pada variabel independent
4. Dikotomi
variabel dependen
5. Dikotomi
variabel independent
6. Variasi
rentangan dalam variabel independent
7. Artefak
atrisi
8. Ketidaksempurnaan
validitas konstruk pada variabel dependen
9. Ketidaksempurnaan
validitas konstruk pada variabel independen
10.Kesalahan pelaporan atau
transkripsi
11.Varians yang disebabkan
oleh faktor luar.
Hunter, J.E., & Schmidt,
F.L.(1990 )mengemukakan langkah-langkah/metode analisis korelasi meta-analisis
dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Transformasi
harga F ke dalam t, d, dan r
b. Bare Bone
Meta Analysis: Koreksi Kesalahan sampel
1).
Menghitung mean korelasi populasi
2).
Menghitung varians rxy
3).
Menghitung varians kesalahan pengambilan sampel
4).
Dampak pengambilan sampel
c. Artefak
yang lain: Koreksi Kesalahan Pengukuran
1). Menghitung
mean gabungan
2). Menghitung
korelasi populasi yang dikoreksi oleh kesalahan pengukuran
3). Interval
kepercayaan
4). Dampak
variasi reliabilitas
Pada contoh aplikasi meta
analisis nantinya akan dijelaskan rumus-rumus yang digunakan dalam metode
Hunter and Schmidt.
- Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa meta
analisis merupakan kegiatan
penelitian kuantitatif yang integrative
literature dan menggabungkan banyak hasil studi orisinal, sistematis, terencana,
observasi retrospektif, dengan analisis statistika yang formal. Meta analisis
tidak berbicara mengenai hasil kesimpulan suatu penelitian, melainkan data dari
suatu penelitian yang sejenis sehingga dapat digeneralisasikan hasil dari
data-data yang telah dianalisis tersebut. Meta analisis cenderung menjurus pada
statistika data dan merupakan penelitian sekunder, dimana meta analisis
mengkaji kembali penelitian yang telah ada sebelumnya (penelitian premier). Metode ini juga dapat menjawab
pertanyaan seputar kesenjangan hasil yang terjadi dari studi yang
bermacam-macam.
Daftar Pustaka
Senin, 29 Oktober 2012
Perkembangan Buku Teks di Indonesia
Sebelum membahas perkembangan buku
teks di Indonesia, saya akan membahas mengenai apa itu buku teks. Pengertian
buku teks telah banyak disampaikan oleh para pakar yang diantaranya adalah
menurut Hall-Quest (dalam Tarigan 1986:11). Menurutnya buku teks adalah rekaman
pikiran rasial yang di susun untuk maksud-maksud dan tujuan-tujuan
intruksional. Lange (dalam Tarigan 1986:11) menjelaskan bahwa buku teks adalah buku
standar, buku setiap cabang khusus dan studi dan dapat terdiri dari dua tipe
yaitu buku pokok/utama dan suplemen/tambahan. Lebih terperinci lagi Bacon
(dalam Tarigan 1986:11) mengemukakan bahwa buku teks adalah buku yang dirancang
buat penggunaan di kelas, dengan cermat yang disusun dan disiapkan oleh para
pakar ataupara ahli dalam bidang itu dan diperlengkapi dengan sarana-sarana
pengajaran yang sesuai dan serasi.
Buckingham (dalam Tarigan 1986:11) mengatakan bahwa buku teks adalah sarana belajar yang biasa dugunakan di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami. Buku pelajaran adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu (Depdiknas 2004:4).
Berdasarkan pendapat para ahli tesebut, dapat disimpulkan bahwa buku teks adalah buku pelajaran yang disusun oleh para ahli atau pakar dalam bidangnya untuk menunjang program pengajaran yang telah digariskan oleh pemerintah.
Buckingham (dalam Tarigan 1986:11) mengatakan bahwa buku teks adalah sarana belajar yang biasa dugunakan di sekolah-sekolah dan di perguruan tinggi untuk menunjang suatu program pengajaran dalam pengertian modern dan yang umum dipahami. Buku pelajaran adalah buku yang dijadikan pegangan siswa pada jenjang tertentu sebagai media pembelajaran (instruksional), berkaitan dengan bidang studi tertentu (Depdiknas 2004:4).
Berdasarkan pendapat para ahli tesebut, dapat disimpulkan bahwa buku teks adalah buku pelajaran yang disusun oleh para ahli atau pakar dalam bidangnya untuk menunjang program pengajaran yang telah digariskan oleh pemerintah.
Penyusunan buku teks dalam upaya
pengembangan pembelajaran di sekolah tidaklah disusun tanpa fungsi yang jelas.
Funsgsi dan peranan buku teks itu adalah: (a) mencerminkan suatu sudut pandang
yang tangguh dan modern mengenai penagjaran serta mendemonstrasikan aplikasinya
dalam bahan pengajaran yang disajikan, (b) menyajikan suatu sumber pokok
masalah yang kaya, mudah dibaca dan bervariasi yang sesuai dengan minat dan
kebutuhan para siswa, sebagai dasar bagi program-program kegiatan yang
disarankan dimana keterampilan-keterampilan ekspresional diperoleh di bawah
kondisi-kondisi yang menyerupai kehidupan yang sebenarnya, (c) menyediakan
suatu sumber yang tersusun rapi dan bertahap mengenai keterampila-keterampilan
ekspresional yang mengemban masalah pokok dalam komunikasi, (d) metode da
sarana penyajian bahan dalam buku teks harus memenuhi syarat-syarat tertentu.
Misalnya harus menarik, menantang, merangsang, bervariasi sehingga siswa
benar-benar termotivasi untuk mempelajari buku teks tersebut, (e) menyajikan
fiksasi (perasaan yang mendalam) awal yang perlu dan juga sebagai penunjang
bagi latihan-latihan dan tugas-tugas praktis, (f) di sampin sebagai sumber
bahan buku teks juga berperan sebagai sumber atau alat evaluasi dan pengajaran
remidial yang serasi dan tepat guna (Green dan Petty dalam Tarigan 1986)
Fungsi buku teks bagi guru adalah sebagai pedoman untuk mengidentifikasi apa yang harus diajarkan atau dipelajari oleh siswa, mengetahui urutan penyajian bahan ajar, mengetahui teknik dan metode pengajaranya, memperoleh bahan ajar secara mudah, mdan menggunaknya sebagai alat pembelajaran siswa di dalam atau diluar sekolah (Krisanjaya 1997:85).
Fungsi buku teks bagi siswa adalah sebagi sarana kepastian tentang apa yang ia pelajari, alat kontrol untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa jauh ia telah menguasai materi pelajaran, alat belajar (di luar kelas buku teks berfungsi sebagai guru) di mana ia dapat menemukan petunjuk, teori, maupun konsep danbahan-bahan latihan atau evaluasi (Krisanjaya 1997:86).
Fungsi buku teks bagi guru adalah sebagai pedoman untuk mengidentifikasi apa yang harus diajarkan atau dipelajari oleh siswa, mengetahui urutan penyajian bahan ajar, mengetahui teknik dan metode pengajaranya, memperoleh bahan ajar secara mudah, mdan menggunaknya sebagai alat pembelajaran siswa di dalam atau diluar sekolah (Krisanjaya 1997:85).
Fungsi buku teks bagi siswa adalah sebagi sarana kepastian tentang apa yang ia pelajari, alat kontrol untuk mengetahui seberapa banyak dan seberapa jauh ia telah menguasai materi pelajaran, alat belajar (di luar kelas buku teks berfungsi sebagai guru) di mana ia dapat menemukan petunjuk, teori, maupun konsep danbahan-bahan latihan atau evaluasi (Krisanjaya 1997:86).
Untuk memudahkan siswa memperoleh
pemahaman yang utuh dan berkesinambungan, penulis buku pelengkap perlu menata
urutan penyajiannya berdasarkan prinsip-prinsip spiralisasi yang baik.
Prinsip-prinsip itu adalah penjenjangan dan pembobotan (Abdussamad 2002: 57).
Prinsip penjenjangan mengharuskan materi diurutkan dari yang lebih mudah ke
yang lebih sulit, dari yang harus dikuasai lebih dulu ke yang merupakan
lanjutan, dari yang sederhana ke yang lebih kompleks.
Prinsip pembobotan menyangkut keluasan dan kedalaman materi yang harus disajikan pada setiap pembelajaran. Penerapan prinsip ini harus memperhitungkan kesinambungan program. Materi tertentu yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri atau yang keterampilannya sangat diperlukan dapat diulang penyajiannya. Pengulangan penyajian itu hendaknya memperhitungkan keluasan dan kedalaman materi. Materi yang diulang harus lebih luas dan dalam bobotnya daripada penyajian sebelumnya atau merupakan pengembangan dari materi yang pernah disajikan sebelumnya.
Prinsip pembobotan menyangkut keluasan dan kedalaman materi yang harus disajikan pada setiap pembelajaran. Penerapan prinsip ini harus memperhitungkan kesinambungan program. Materi tertentu yang memiliki tingkat kesulitan tersendiri atau yang keterampilannya sangat diperlukan dapat diulang penyajiannya. Pengulangan penyajian itu hendaknya memperhitungkan keluasan dan kedalaman materi. Materi yang diulang harus lebih luas dan dalam bobotnya daripada penyajian sebelumnya atau merupakan pengembangan dari materi yang pernah disajikan sebelumnya.
Di Indonesia, awalnya bentuk buku masih
berupa gulungan daun lontar. Menurut
Ajib Rosidi (sastrawan dan mantan ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama.
Pada masa penjajahan Belanda, penulisan dan penerbitan buku sekolah dikuasai orang Belanda. Kalaupun ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, umumnya mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda. Usaha penerbitan buku agama dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam yang dilakukan orang Arab, sedangkan penerbitan buku –buku agama Kristen umumnya dilakukan oleh orang-orang Belanda.
Penerbitan buku bacaan umum berbahasa Melayu pada masa itu dikuasai oleh orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan buku berbahasa daerah. Usaha penerbitan buku bacaaan yang murni dilakukan oleh pribumi, yaitu mulai dari penulisan hingga penerbitannya, hanya dilakukan oleh orang-orang Sumatera Barat dan Medan. Karena khawatir dengan perkembangan usaha penerbitan tersebut, pemerintah Belanda lalu mendirikan penerbit Buku Bacaan Rakyat. Tujuannya untuk mengimbangi usaha penerbitan yang dilakukan kaum pribumi. Pada tahun 1908, penerbit ini diubah namanya menjadi Balai Pustaka. Hingga jepang masuk ke Indonesia, Balai Pustaka belum pernah menerbitkan buku pelajaran karena bidang ini dikuasai penerbit swasta belanda.
Sekitar tahun 1950-an, penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Sebagian besar berada di pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1950 masih diijinkan berusaha di Indonesia.
Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional dengan jalan memberi subsidi dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku nasional sehingga penerbit diwajibkan menjual buku-bukunya denga harga murah.
Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat denganc epat. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang didirikan 1950, penerbit yang menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 pada tahun 1965 naik menjadi 600-an lebih.
Pada tahun 1965 terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari perubahan itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi perbukuan mengalami kemunduran.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, kemudian menetapkan bahwa semua buku pelajaran di sediakan kan oleh pemerintah. Keadaan tidak bisa terus-menerus dipertahankan karena buku pelajaran yang meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diberikan hak pada Balai Pustaka untuk mencetak buku-buku yang dibutuhkan dipasaran bebas. Para penerbit swasta diberikan kesempatan menerbitkan buku-buku pelengkap dengan persetujuan tim penilai.
Hal lain yang menonjol dalam masalah perbukuan selama Orde Baru adalah penerbitan buku yang harus melalui sensor dan persetujuan kejaksaan agung. Tercatat buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Utuj Tatang Sontani dan beberapa pengarang lainnya, tidak dapat dipasarkan karena mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI. Sementara buku-buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, kemudian “Era Baru, Pemimpin Baru” tidak bisa dipasarkan karena dianggap menyesatkan, terutama mengenai cerita-cerita seputar pergantian kekuasaan pada tahun 1966.
Ajib Rosidi (sastrawan dan mantan ketua IKAPI), secara garis besar, usaha penerbitan buku di Indonesia dibagi dalam tiga jalur, yaitu usaha penerbitan buku pelajaran, usaha penerbitan buku bacaan umum (termasuk sastra dan hiburan), dan usaha penerbitan buku agama.
Pada masa penjajahan Belanda, penulisan dan penerbitan buku sekolah dikuasai orang Belanda. Kalaupun ada orang pribumi yang menulis buku pelajaran, umumnya mereka hanya sebagai pembantu atau ditunjuk oleh orang Belanda. Usaha penerbitan buku agama dimulai dengan penerbitan buku-buku agama Islam yang dilakukan orang Arab, sedangkan penerbitan buku –buku agama Kristen umumnya dilakukan oleh orang-orang Belanda.
Penerbitan buku bacaan umum berbahasa Melayu pada masa itu dikuasai oleh orang-orang Cina. Orang pribumi hanya bergerak dalam usaha penerbitan buku berbahasa daerah. Usaha penerbitan buku bacaaan yang murni dilakukan oleh pribumi, yaitu mulai dari penulisan hingga penerbitannya, hanya dilakukan oleh orang-orang Sumatera Barat dan Medan. Karena khawatir dengan perkembangan usaha penerbitan tersebut, pemerintah Belanda lalu mendirikan penerbit Buku Bacaan Rakyat. Tujuannya untuk mengimbangi usaha penerbitan yang dilakukan kaum pribumi. Pada tahun 1908, penerbit ini diubah namanya menjadi Balai Pustaka. Hingga jepang masuk ke Indonesia, Balai Pustaka belum pernah menerbitkan buku pelajaran karena bidang ini dikuasai penerbit swasta belanda.
Sekitar tahun 1950-an, penerbit swasta nasional mulai bermunculan. Sebagian besar berada di pulau Jawa dan selebihnya di Sumatera. Pada awalnya, mereka bermotif politis dan idealis. Mereka ingin mengambil alih dominasi para penerbit Belanda yang setelah penyerahan kedaulatan di tahun 1950 masih diijinkan berusaha di Indonesia.
Pada tahun 1955, pemerintah Republik Indonesia mengambil alih dan menasionalisasi semua perusahaan Belanda di Indonesia. Kemudian pemerintah berusaha mendorong pertumbuhan dan perkembangan usaha penerbitan buku nasional dengan jalan memberi subsidi dan bahan baku kertas bagi para penerbit buku nasional sehingga penerbit diwajibkan menjual buku-bukunya denga harga murah.
Pemerintah kemudian mendirikan Yayasan Lektur yang bertugas mengatur bantuan pemerintah kepada penerbit dan mengendalikan harga buku. Dengan adanya yayasan ini, pertumbuhan dan perkembangan penerbitan nasional dapat meningkat denganc epat. Menurut Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang didirikan 1950, penerbit yang menjadi anggota IKAPI yang semula berjumlah 13 pada tahun 1965 naik menjadi 600-an lebih.
Pada tahun 1965 terjadi perubahan situasi politik di tanah air. Salah satu akibat dari perubahan itu adalah keluarnya kebijakan baru pemerintah dalam bidang politik, ekonomi dan moneter. Sejak akhir tahun 1965, subsidi bagi penerbit dihapus. Akibatnya, karena hanya 25% penerbit yang bertahan, situasi perbukuan mengalami kemunduran.
Sementara itu, pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mashuri, kemudian menetapkan bahwa semua buku pelajaran di sediakan kan oleh pemerintah. Keadaan tidak bisa terus-menerus dipertahankan karena buku pelajaran yang meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, diberikan hak pada Balai Pustaka untuk mencetak buku-buku yang dibutuhkan dipasaran bebas. Para penerbit swasta diberikan kesempatan menerbitkan buku-buku pelengkap dengan persetujuan tim penilai.
Hal lain yang menonjol dalam masalah perbukuan selama Orde Baru adalah penerbitan buku yang harus melalui sensor dan persetujuan kejaksaan agung. Tercatat buku-buku karya Pramudya Ananta Toer, Utuj Tatang Sontani dan beberapa pengarang lainnya, tidak dapat dipasarkan karena mereka dinyatakan terlibat G30S/PKI. Sementara buku-buku “Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai”, kemudian “Era Baru, Pemimpin Baru” tidak bisa dipasarkan karena dianggap menyesatkan, terutama mengenai cerita-cerita seputar pergantian kekuasaan pada tahun 1966.
Sumber:
Langganan:
Postingan (Atom)